PolitikIndonesia.com: Indonesia mendorong pemerintahan Myanmar di bawah kepemimpinan PM Thein Sein melakukan reformasi nasional agar negara tersebut tetap berada pada jalur demokrasi yang tepat. Proses reformasi tersebut menurut Indonesia tidak harus melalui revolusi tetapi proses yang paralel dengan keutuhan nasional dan teritorial Myanmar
Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Pernyataan ketika bertemu empat mata dengan PM Myanmar Thein Sein di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ke-13 ASEAN, di Hotel Shangri-La, Singapura, Senin (19/11) malam.
Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal pertemuan Presiden dengan PM Thein Sein itu berlangsung tertutup sekitar 40 menit yang juga dihadiri Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Rajasa, dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Ali Alatas.
"Reformasi tidak harus melalui revolusi, tetapi yang dipentingkan adalah proses demokrasi berjalan paralel untuk menjaga keutuhan nasional dan teritorial Myanmar," kata Dino menirukan ucapan Kepala Negara saat bertemu PM Thein.
Presiden juga menekankan dalam melakukan proses demokrasi, pemerintahan Myanmar dapat bersikap inklusif agar dapat merangkul pihak-pihak yang di luar proses pemerintahan itu sendiri. Presiden Yudhoyono juga sempat memaparkan pengalamannya sewaktu masih aktif di TNI ikut menjadi bagian dari reformasi nasional dalam skala yang lebih besar di Indonesia, terutama dalam pembuatan reformasi TNI.
Sementara itu PM Myanmar menyatakan, menghargai sikap Indonesia yang memberikan kerja sama dalam menyelesaikan masalah di internal negara itu. Thein Sein juga memberi apresiasi kepada Yudhoyono atas pengiriman Letjen (Purn) TNI Agus Widjoyo sebagai utusan khusus Indonesia terhadap Myanmar.
Agus Widjoyo merupakan mantan Kepala Staf Teritorial TNI, juga adalah pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) diutus ke Myanmar, terutama setelah terjadi pergolakan politik di negeri junta militer itu.
Selain itu, Thein Sein juga menghargai sikap Presiden Yudhoyono yang tiada henti mencari terobosan dalam menyelesaikan masalah internal Myanmar. Misalnya, permintaan agar Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari dapat bertemu dengan PM Myanmar, dan termasuk dengan tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi.
Pertemuan kedua kepala pemerintahan tersebut merupakan yang pertama, dan PM Thein Sein banyak menceritakan perkembangan politik terkini yang dihadapi pemerintahan dan rakyat Myanmar.
Proses korespondensi antara Presiden Yudhoyono dan PM Thein Sein, diutarakan Dino juga intensif. Presiden menyatakan Indonesia, sebagai negara yang memiliki politik luar negeri bebas dan aktif, menginginkan korespondensi tersebut terus berlangsung. PM Thein Sein mengakui pertemuan tersebut efektif, konstruktif karena berlangsung secara substansi sebagai komitmen menuntaskan masalah di Myanmar.
Monday, November 19, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment